Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Intisari Begawan Gita

OPINI | 15 December 2009 | 11:33 Dibaca: 1333   Komentar: 0   0

Oum Swasty Astu,..

Ada sehabat mengatakan “ anda pasti tidak tahu baca alquran, dan anda pasti tidak tahu bahasa arab,  semua itu betul, tapi saya bisa baca tafsir alquran dalam bahasa Indonesia. Demikian pula tentang begawan Gita, saya pasti tidak tahu bahasa sansekerta, tetapi saya bisa baca terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Dibahawa ini saya akan  ambil intisari dari  begawan Gita disampaikan dalam bahasa yang sederhana,..

Bab-I

Bab ini menceritrakan awal perang beratha yuda, dimana kedua pasukan bersaudara itu saling berhadapan siap untuk saling membunuh. Arjuna melihat diseberang  sana adalah saudara2 sepupunya seperti Duryodana dan adik2nya, melihat Gurunya Drona, melihat kakeknya  Bisma, menjadi hilang semangatnya  untuk bertempur, dia melempar sanjatanya, tidak mungkin rasanya dia bisa membunuh saudaranya sendiri.

Bab-II

Untuk mengembalikan semangat tempurnya Arjuna,  tokoh Krisna meberi wejangan sbb.

Didalam diri manusia ada dua keribadian (ego) ,  yaitu ego semu terdiri dari fisik, pikiran. Emosional, carakter, pengetahuan, ketrampilan , disebut badan yang fana. Kemudian ada ego yang bersifat abadi, tidak terbunuh, tidak pula membubuh, dan ada dimana-mana, itulah kesadaran murni.

Kesadaran  muruni ini tidak dipengaruhi oleh proses kehidupan, seperti masa kanak2, masa remaja maupun masa tua, dia sifatnya abadi.  Seperti udara memberi kehidupan pada fisik, demikianlah kesadaran murni itu memberi kesadaran kepada manusia.

Makhluk mula2 tidak terwujud seperti lebu tanah, kemudian terwujud seperti manusia binatang dll, sesudah itu kembali tidak terwujud bersatu dengan tanah. Apa yang perlu ditangisi, apa yang perlu disedihkan,..?

Sebagai kesatria hendaklah kamu menjalankan darmamu sebagai kesatria, jika kamu lari dari medan perang para pahlawan akan menyebut  kamu sebagai pengecut. Bagi para  kesatria sebutan pengecut lebih buruk daripada kematian .

Walaupun Arjuna sudah mendapatkan pencerhan tentang jati diri manusia, tetapi dia masih ragu2 karena dia tidak dapat melawan  perasaannya,  seperti saudra sdh tahu kematian itu sdh pasti, kenapa sdr masih  sedih melihat kematian saudaramu,..demikianlah perasaan Arjuna. Kemudia Krisna memberi wejangan dengan cara lain,.. sbb

Dalam proses perjalanan evolusi manusia , dia mengalami tiga tahapan kehidupan yang disebut triguna, yaitu satwa, rajas dan tamas.  Sifat tamas yaitu sifat pemalas, masa bodoh, mendekati sifat2 binatang. Sifat rajas, menjadi manusia emosonil, penuh nafsu, penuh ide, penuh dendam dll. Kemudian sifat Satwa, yaitu sifat tenang, berpikir positip, suka menolong, welas asih, berpikir positif dll.

Untuk mengghilangkan keragu-raguanmu, kamu harus membebaskan dirimu dari ikatan triguna tersebut, artinya dia harus sdh lepas dari ketiga sifat manusia tersebut. Sifat malas dia buang, sifat emosionil dia buang sifat welas asih dia buang, sehingga dia sampai pada pribadi yang tenang, tidak terpengaruh lingkungan maupun kondisi fisik.

Dalam bab ini masih banyak wejangan2 yang berisi nasihat2 untuk mencapai ketenangan dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan ini, tetapi memerlukan renungan yang mendalan untuk dapat memahami nasihat2 tersebut.

Bab-111. Karma-Yoga.

Ada dua jalan yang aku ajarkan kepada manusia, yaitu jalan dengan menggunakan ilmu pengetahun (Jnana-yoga)bagi yang menggunakan pikiran, dan dengan jalan pekerjaan bagi mereka yang menggunakan tenaga/aktip(karmayoga)

Dia yang melakukan pekerjaan tanpa mengikatkan pikirannya pada hasil pekerjaannya, dialah yang disebut menjalankan “karma-yoga”. Hanya dengan pekerjaan, Prabu Jenaka

Mendpatkan kesempurnaan.

Sebagai orang tidak terpelajar melakukan pekerjaan tanpa ikatan (karmayoga),  demikian pulalah hendaknya orang terpelajar (jnana-yoga) melakukan pekerjaannya

Sebagaimana manusia/orang bijak bergerak dan bekerja menurut alamnya/jalan hidupnya  sendiri, demikian pula semua makhluk bergerak dan bekerja sesuai alamnya, sesuai jalan hidupnya, sesuai programnya, sesuai dengan peran yang harus dia lakukan. Tidak ada gunanya kita  menyesali nasib, sebab nasib adalah rel yang harus kita jalani.

Prinsip dari karma-yoga ialah melakukan pekerjaan tanpa terikat akan hasilnya, sebab bekerja bagi karma yoga adalah yadnya, adalah ibadah untuk kemanusiaan. Ada lima macam yadnya yang disebut Panca-Yadnya yaitu :

o       Dewa yadnya, yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

o       Resi Yadnya yaitu penghormatan kepada para resi/para nabi2.

o       Pitra Yadnya,  mendoakan pada para leluhur.

o       Manusia yadnya, melakukan pekerjaan untuk kemanusiaan.

o       Butha-Yadnya, memberi makan kepada makhluk dibawah manusia seperti butakala, dedemit, roh2 gentayangan, gumatap-gumitip/binatang2 dll

Dengan jalan bagaimapun orang2 mendekati Tuhan,  dengan cara demikian pula Tuhan akan memenuhi keinginan mereka, betapapun  sederhana bentuk ibadah seseorang asal dilakukakn dengan keyakinan, Tuhan akan terima ibadahnya, tidak ada ibadah yang sesat. Manusia tidak berhak menilai ibadah itu sesat atau tidak, sebab ibadah itu adalah komunikasi dengan Tuhan bukan dengan sesama manusia.

Jika anda sibuk dalam pekerjaan,  jadikanlah pekerjaan itu sebagai ibadah, caranya ialah tanamkan dalam kesadaran anda bahwa anda bekerja adalah karena kehendak Tuhan, jangan terikat pada hasilnya, sebab hasilnya itu adalah untuk Tuhan, sedangkan anda hanya mendapat upahnya, sesuai kebutuhan hidup anda. Hanya dalam pelaksanaannya kamu mempunyai hak, sama sekali bukan pada hasinya.

Bab-1V  Jnana-Yoga.

Jnana yoga ialah  jalan kehidupan bagi mereka yang mendalami ilmu pengetahun. Dibawah ini  saya akan kutif beberapa pengetahuan spiritual untuk kalangan jnanin sbb:

Mereka mengatakan tentang pohon kehidupan /aswatama,  yang mempunyai akar diatas dan cabang2 dibawah. Daunnya adalah weda2. Karena umur weda sudah terlalu lama, maka dia akan dajarakan kembali oleh para nabi2 pada tempat dan waktu  yang berbeda-beda. Pada dasarnya seluruh kitab2 suci adalah bahagian dari weda yang disesuaikan dengan kondisi dan waktu itu . Orang yang mengetahui ini, berarti mengetahui weda2. Kalau saya mempelajari berbagai kitab2 suci, sama artinya dengan mempelajari weda2.

Banyak kehidupan yang telah Tuhan lalui, demikian pula manusia, tetapi Tuhan  mengetahui kehidupan dan kelahiran yang  dilaluiNya,  sedangkan manusia tidak tahu..

Perkataan serupa ini juga pernah dikatakan Yesus, dia sudah ada sebelum Daud lahir. Kesadaran itu tidak pernah mati, dia lahir memakai kostum sesuai dengan peran yang dia akan lakonkan, tetapi manusia tidak tahu karena kesadarannya tertutup oleh kostumnya.

Sehingga ego semu itu memiliki kesadaran semu/kesadaran fisik. Manusia umumnya berada dalah ego/kepribadian semu ini, sehingga dia selalu berubah sesuai waktu dan lingkungannya misalnya, waktu dirumah dia sebagai ayah, dikantor dia sebagai karyawan, di penjara dia sebagai napi, kemudian setelah fisiknya mati, ego itupun lenyap, seperti lenyanya fisik.

Tuhan dapat dibayangkan sebagai udara yang memberi kehidupan kepada semua makhluk. Dalam setiap makhluk dia sebut udara itu nafas, sifatnya sama dengan udara luar. Demikian Tuhan adalah kesadran universal,  walaupun dia masuk kedalam semua makhluk hidup,  memberikan kesadaran kepada semua mahkhluk  hidup, sifat aslinya tidak berubah sama dengan kesadaran universal, tetapi kesadaran semu pada setiap makhluk berbeda, karena yang nampak itu hanya bayangannya maka itu disebut kesadaran/ego semu. Kalau bathin yang membungkus kesadaran itu sudah bersih, maka akan nampak kesadaran aslinya sama dengan kesadaran universal, dia berhak menyebut dirinya Tuhan.

Kalau manusia suci itu sama dengan Tuhan, kenapa tidak bisa berbuat seperti Tuhan,..? Satu ember air laut, tentu tidak bisa menampung kehiduan ikan2 dilaut demikian pula kesadaran yang dibalut oleh bathin manusia tidak bisa berbuat seperti kesadaran universal.

Orang terpelajar/kalangan jnanin, hendaknya jangan menggoncangkan pengertian orang yang bodoh, dengan memberikan wejangan2 yang sulit, sehingga mereka  tidak mau bekerja. Pengetahuan ini cukup dipakai sendiri atau dikalangan terpelajar untuk mencapai kesempurnaan. Seperti di porum kompasiana ini adalah untuk kalangan terpelajar, tidak boleh dibawa keluar untuk kalangan umat yang masih terikat dengan keyakinan yang sederhana. Sebaiknya mereka melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan yang diajarkan agama. Ajaran yang lebih tinggi akan membingungkan mereka, akibatnya mereka kehilangan pegangan, misalnya melanggar hukum dianggap sebagai ibadah.

Seperti bait berikut : Pekerjaan tidak dapat menodaiku,  demikian pula hasil pekeraan itu tidak  dapat mengikat aku.. Bagi orang awam, akan menganggap semua pekerjaannya halah, demikian pula akibatnya tidak akan merugikannya. Sebab itulah pemahaman diatas hanya dipakai dikalangan jnanin/ terpelajar, jangan diajarkan kepada umat awam.

Mengenai Karma dalam akarma, akarma dalam karma, dan karma dalam karma, dapat saya jelaskan sbb:

Karma artinya berbuat,  akarma artinya tidak berbuat. Dalam hal ini kita harus melihat dari sisi bathiniah, sebab isi manusia itu hakikatnya adalah bathin, jadi yang bekerja itu hakikatnya ialah bathin, bukan fisik.

Orang yang sibuk bekerja dari pagi sampai sore,  tampa mengikatkan bathinnya pada hasil pekerjaannya, itu yang disebut karma/bekerja tetapi bathinnya tidak bekerja / akarma. Dia nampaknya bekerja tetapi tidak merasa bekerja, karena dia tidak terikat oleh hasil pekerjaannya. Inilah yang disebut Karma-Yoga,  bekerja sebagai ibadah/yadnya.

Sebaliknya ada orang tidak bekerja/ fisiknya diam, tetapi bathinnya  bekerja/mengharapkan hasil yang besar, seperti main lotre, Judi, dll. Mereka ini disebut tidak bekerja, tetapi bathinnya bekerja berharap dan cemas menunggu hasil pekerjaan orng lain. Hal ini disebut akarma dalam karma.

Umumnya orang sibuk melakukan pekerjaan dengan mengharapkan hasil yang baik dari pekerjaannya itu. Hal ini disebut karma dalam karma, artinya fisiknya bekerja, bathinnya juga bekerja. Hal inilah yang menimbulkan senang dan susah, bahkan bisa menimbulkan stres akibat kekecewaan yang berlebihan

Raja-Yoga.

Raja yoga adalah jalan menuju pelepasan.

Ada dua macam makhluk diduni ini, yaitu makhluk yang dapat binasa yaitu makhluk yang berasal dari bumi(dari bawah) dan makhluk yang tidak dapat binasa yaitu makhluk yang berasah dari kesadaran (dari atas)

Yesus katakan ada manusia mati, ada manusia hidup kekal, tetapi maksudnya sama, hanya cara mengatakan yang berbeda, tetapi dapat disederhanakan dengan mengatakan manusia rohaniah, dan manusia jasmaniah. Seperti halnya semut, kalau belum bersayap dikatakan semut, kalau sudah bersayap dikatakan laron. Kalau ulat sudah bersaya dikatakan kupu2, kalau manusia sudah memiliki kesadaran roh disebut manusia rohaniah, bisa terbang meninggalkan fisiknya. Hidupnya tidak tergantung pada fisik, tetapi pada  roh yang berasal dari atas. Raja-Yoga adalah usaha untuk mencapai kesadran roh, atau lahir dari roh.

Sebagaimana ether/akasa karena kehalusannya bisa berada dalam semua benda, demikianlah alam kesadaran/atman, berada dalam semua makhluk, tidak terpengaruh sedikitpun akan proses kehidupan, akan tetapi proses kehidupan menyebabkan kotoran yang  menyelimutinya berangsur-angsur  menipis, sehingga akhirnya bersih total.

Orang yang kesadarannya sudah bersih total, disebut orang suci, seorang yogin, bathinnya bisa masuk kedalam alam sorgawi sebelum dia meninggal, hal ini disbut pelepasan/moksah.

Untuk mencapai tingkatan seperti itu ditempuh jalan, tapa-beratha,  yoga dan semedhi seperti para yogin, para biksu, para sufi, para rahib dll.

Wujud Tuhan/Manifestasi Kesadaran Universal.

Arjuna tidak dapat melihat Tuhan dengan mata manusianya, Krisna membuka mata bathinnya dengan demikian dia dapt melihat Tuhan seutuhnya sbb:

Dia melihat Tuhan dengan bayak mata, banyak mulut, banyak telinga, yang pada hakikatnya ialah indria dari semua makhluk. Demikian pula banyaknya hiasan dan bau wewangian.

Dia melihat Tuhan tanpa batas, semua para nabi2, para dewa2 ada didalamnya, dia berada dalam alam sorga dan alam bumi. Dengan banyak mulut dia menelan semua makhluk, dengan banyak rahim dia melahirkan banyak makhluk, dengan banyak senjata dia menghancurkan , dengan banyak ilmuan dia membangun kembali apa yang rusak

Demikianlah hakikat perwujudan Tuhan adalah  alam universal termasuk alam duniawi dan alam sorgawi, tidak ada satupun yang berada diluar Tuhan. Sebab itulah orang2 suci mengatakan Aku ada dalam kamu dan kamu ada dalam aku, kita sama2 ada dalam Tuhan, krena mereka melihat wujud Tuhan yang sebenarnya.

Bhakti –Yoga.

Manusia melakukan ibadah/yadnya sesuai dengan keyakinan mereka, untuk itu kita bedakan atas tiga macam keyakinan yang dibawa dari kelahirnya. A.l

Satwika yang bersifat kebaikan, ketenangan dan kesabaran dan pengertian,..

Rajasika manusia yang dipenuhi oleh hawa afsu, keserakahan, dan emosionil.

Tamasika manusia yang lahir dalam kebodohan, tidak ada motivasi, malas, banyak tidur.

Manusia yang melakukan yadnya/ibadah dengan tulus dan ikhlas karena kewajiban yang diajarkan oleh agama,  mereka itu adalah golongan  stwika, merka melakukan bakti-yoga.

Mereka yang melakukan ibadah/yadnya dengan penuh pengharapan, baik itu keuntungan duniawi, maupun berkat sorgawi, dilakukan oleh kelompok  rajasika.

Ibadah yang dilakukan dengan kebodohan, para extrimis,  penyiksaan diri/bomber, menyakiti hati orang lain, dilakukan oleh kelompok tamasika

Tiga macam yadnya diatas  didasarkan atas keyakinan alamiah menurut kelahiran mereka, artinya jalan hidup mereka memang harus demikian.  bagaimanapun  bentuk ibadah/yadnya seseorang, jika dilakukan dengan keyakinan, maka ibadah itu akan diterima Tuhan.

Setiap orang bahkan para dewa2pun tidak luput dari kewajiban yang disebut swadarma, yaitu job kehidupan, atau program kehidupan, atau jalan kehidupan yang harus ditempuhnya. Menyesali hidup, atau mengingini kehidupan orang lain adalah suatu kebodohan.

Saya tidak mengutip ayat demi ayat, karena saya hanya mengambil intisari dari Begawan gita yang bisa dimanfaatkan bagi mereka yang ingin mencapai tingkat spiritual. Bagi anda yang ingin masuk kedalam alam spiritual silahkan masuk di (http://spiritual.house.blog.com )

Oum sathy-santhy..oum,..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 11 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 13 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 7 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 8 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Indonesia Tangguh (Puisi untuk Presiden …

Partoba Pangaribuan | 8 jam lalu

UU Pilkada Batal Demi Hukum? …

Ipan Roy Sitepu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: