Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Filsafat

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Mochamad Yusuf

Mochamad Yusuf was born in Surabaya on December, 29th. After passed his education in Communication Studies from University of Airlangga in 1995, he worked in SCTV as a promotion producer until 1998. Then, he has joined SAM Design, a well-known company for website developing and application. More than 134 websites and application projects have been done there. Yusuf also speaks in many public seminars and radios, as well as teaches at STIKOM and Christian University of Petra Surabaya. Yusuf likes to read, write and watch the movies. You can see his writings on Jawa Pos, Surabaya Post, int...

[Enerlife] Lebih Baik Bangkrut Dunia

OPINI | 15 December 2009 | 15:51 137 0 Nihil

Orang berdatangan, sampai pahalanya habis. Tapi ternyata yang datang tak berhenti. Akhirnya karena pahala sudah habis, dosa yang meminta keadilan itu diberikan pada orang yang sebelumnya berpahala.

Serial “Melunakkan Hati”

timbanganMinggu kemarin 13/12, saya mengambil aki yang saya recharge. Tapi alangkah kagetnya, ternyata tokonya bangkrut. Kata penjaga toko sebelah, sudah awal bulan toko itu sudah tak buka lagi. Bahkan mereka tak pamitan.

Saya jadi panik dan putus asa, karena terbayang aki tak kembali. Lalu saya lihat bonnya, ternyata ada telpon rumah. Saya telpon, ternyata yang mengangkat pemiliknya. Dengan nada getir dan gemas, dia bilang tokonya ditutup, karena merasa dicurangi karyawannya. Dia bangkrut. Pengeluaran lebih banyak dari pemasukan.

Bicara bangkrut, saya dan keluarga (orang tua) mungkin kenyang dengan kebangkrutan ini. Sejak kecil, orang tua jatuh bangun usahanya. Bahkan sampai ayah mau meninggal, ada cobaan yang cukup berat. Usahanya bangkrut.

Pas bangkrut, harta benda kita jual satu per satu. Bahkan akhirnya yang dijual rumah. Karena itu saya beberapa kali pindah rumah. Bukan mengarah ke kota, tapi tambah ke pinggiran kota. Bukan tambah besar, tapi malah tambah kecil.

Suasana rumah sudah tak nyaman lagi. Ayah frustasi dan ingin marah saja. Untunglah meski putus asa, ayah tak sampai harus mengakhiri hidup. Karena itu saya tak heran, kalau sebuah penelitian menyatakan motif bunuh diri banyak karena usaha pelakunya bangkrut.

Adakah kejadian yang menyebabkan kesedihan, kekecewaan bahkan frustasi daripada kejadian kebangkrutan ini?

Suatu waktu, Nabi Muhammad pernah bertanya tentang kebangkrutan. Sahabatnya menjawab, kebangkrutan itu kalau usahanya merugi. Namun Beliau menjawab, yang dinamakan kebangkrutan, kalau kelak di akhirat seseorang membawa begitu banyak pahala, tapi akhirnya dia masuk neraka.

Dia membawa begitu banyak pahala, ada pahala shalat, puasa, zakat bahkan haji. Tapi ketika mau beranjak ke surga, ada orang yang meminta keadilan, karena orang yang membawa pahala ini, melakukan ini-itu yang tak menyenangkan padanya. Lalu pahala itu diberikan kepada orang itu. Dan orang yang meminta keadilan ini terus berdatangan, sampai pahalanya habis. Tapi ternyata yang datang tak berhenti. Akhirnya karena pahalanya sudah habis, dosa yang meminta keadilan itu diberikan pada orang yang sebelumnya berpahala. Akhirnya lama kelamaan dia berdosa banyak.

Akhirnya dia malah dijebloskan ke neraka. Dia yang sejatinya bisa masuk ke surga, tapi jadinya ke neraka.

~~~

Sering kita dalam kehidupan hanya mementingkan ibadah vertikal (ke Tuhan), tapi melupakan bahkan menghiraukan ibadah horizontal (ke manusia). Ini mungkin karena terpengaruh hadis yang mengatakan kelak di akhirat, yang dihisab dahulu adalah shalat. Kalau shalatnya baik berarti ibadah yang lain pasti bagus. Padahal banyak ayat di dalam Al Quran yang menyebut yang shalatpun bisa masuk ke neraka, seperti surat Al Maa’uun. Bahkan yang menarik banyak perintah shalat dibarengi dengan memberi ke orang lain.

Yang saya khawatirkan dengan penekanan pada ibadah vertikal ini, menjadikan seakan-akan dirinya shaleh sendiri. Mereka merasa statusnya lebih tinggi dibanding yang lain. Bahkan berani menyalahkan yang lain, atau mengkafirkan yang lain. Bahkan berkeyakinan dirinya bisa masuk surga. Mereka menjadi eksklusif, dan menjauh dengan orang-orang sekelilingnya.

Mereka merasa ibadah itu hanya yang berhubungan dengan Tuhan. Di luar itu bukan ibadah. Sehingga ketika ibadah dengan Tuhan begitu khusyuk dan dibela-bela dengan mengorbankan segala apa yang dimiliki. Namun justru tak begitu peduli di luar ibadah itu. Tak peduli dengan orang lain bahkan sekalipun merugikan orang lain.

Sehingga bisa saja seusai shalat, masih basah wajah dengan air wudhu, tapi ketika melayani pembeli, tak merasa peduli sedikitpun timbangannya diberati. Bisa saja pulang haji, namun ketika memberi resep obat, tak peduli apakah obat yang diberikan mampu dibeli atau tidak. Tapi yang penting ada komisi dari pabrik farmasi.

Bisa saja dia masih berpuasa, namun tak peduli dia menaikkan harga pembelian, meski harganya sebenarnya lebih murah. Karena ada selisih keuntungan yang bisa diraih. Bisa saja sudah berzakat, tapi tak peduli lampu merah sudah menyala, dan orang yang mau menyeberang takut melakukannya.

Bisa saja habis shalat di masjid, keluar masjid marah-marah dan memaki-maki orang, karena sepatunya hilang (this is real story). Bisa saja sudah jadi imam masjid dan suaranya mengumandang kemana-mana karena juga jadi muadzin, tapi tidak peduli dengan tetangganya yang mau berlangganan air PDAM. Karena sambungannya di depan rumahnya. Dia takut debit airnya turun (this is real story).

Bisa saja barusan datang dari mengaji dan mendengarkan ceramah, tapi sampai rumah, mengatakan yang tak enak pada suami dan anak-anaknya. Suami dan anak-anak hanya bisa sabar dan begitu terluka. Bisa saja telah menyumbang uang untuk masjid, namun menyetujui sebuah perundangan karena ada imbalan dari yang merasa diuntungkan adanya peraturan itu.

~~~

Kenapa sebenarnya kita harusnya tak melalaikan ibadah horizontal ini. Karena sekali kita bersalah pada mereka, untuk bisa dimaafkan, kita harus minta maaf padanya. Padahal belum tentu kita punya kesempatan bertemu dengannya. Namun untuk Allah, kita masih punya kesempatan di mana saja kapan saja untuk meminta maaf. Apalagi Allah Maha Pemaaf, sedangkan manusia belum tentu memaafkan.

Kita juga bermasyarakat dengan orang lain yang beragam. Ada yang agamanya sama, tapi ada ada yang bedanya berbeda. Bahkan mungkin tak beragama. Ada yang kadar pengetahuan agamanya rendah, ada yang melaksanakan agama yang tak konsisten. Begitu beragam. Tapi mereka semua adalah manusia. Mereka semua dihisab dan tentu saja juga bisa minta keadilan di sana, kalau disakiti,

Mari kita tingkatkan ibadah vertikal kita, tapi juga menggiatkan ibadah sosial (horizontal) kita. Seorang manusia yan baik selain dia mengabdi kepada Tuhan dengan benar, dia juga berguna bagi orang lain dan juga tak merugikan orang lain. (KMD, 15/12/2009 jam istirahat)

Oleh: Mochamad Yusuf*

~~~
Lunakkan Hati adalah serial tulisan dengan tujuan menggiatkan ibadah sosial. Sebuah ibadah vertikal kepada manusia dan makhluk lainnya. Menjadikan lingkungan kita menjadi lebih baik. Menjadikan Indonesia lebih bernegara dan bermasyarakat lebih baik.

*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus developer website & software SAM Design. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012