Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Filsafat

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Masim Vavai Sugianto

Masim "Vavai" Sugianto, proud openSUSE community member, IT professional meski kadang-kadang saja bisa prof dan lebih sering nggak. Tinggal di Bekasi, Bekerja di Jakarta. Minat pada Linux dan dunia Open Source, Membaca, Hiking dan Avonturir.

25% Pekerja Seks yang Salah Logika?

OPINI | 02 December 2009 | 15:32 656 6 1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik

Siang menjelang sore ini saya sempat kaget juga membaca tulisan di Kompas : “25 Persen Pelajar di Sukabumi Jadi Wanita Pekerja Seks”.

Sebelum membaca beritanya, logika saya langsung bermain-main. Andaikan ada 1 juta pelajar di Sukabumi, berarti ada 250 ribu wanita pekerja seks disana. Luar biasa. Apakah ini hanya sampling atau memang diambil dari data empiris.

Membaca berita lebih jauh, dijelaskan sebagai berikut :

SUKABUMI, KOMPAS.com — Sekitar 25 persen dari 239 wanita pekerja seks (WPS) langsung di Kota Sukabumi, Jawa Barat, berasal dari kaum pelajar yang disebabkan oleh keinginan hidup mewah.

“Dulu, penyebab para pelajar menjadi WPS lantaran faktor ekonomi. Namun, saat ini mulai bergeser menjadi gaya hidup mewah,” kata Koordiantor Lapangan Gerakan Narkoba dan AIDS (GPNA) Kota Sukabumi Den Huri di Sukabumi, Rabu (2/12).

Jika saya tidak salah menangkap, isi berita Kompas justru menyatakan bahwa 25% dari Wanita Pekerja Seks adalah pelajar, yang tentunya jauh berbeda dengan judul artikel yang cukup seram ” 25 Persen Pelajar di Sukabumi Jadi Wanita Pekerja Seks”. Jadi yang dimaksud artikel itu mungkin bukan 25% dari pelajar adalah pekerja seks melainkan 25% dari pekerja seks adalah pelajar.

Meski kelihatan kecil, kesalahan logika seperti ini bisa merugikan karena ada perbedaan yang sangat besar antara judul dengan isi berita.

Diluar kesalahan logika, fenomena pelajar menjadi WPS ini memang cukup memprihatinkan meski saya pribadi terus terang ragu mengenai generalisasi dan angka-angka yang disampaikan. Mudah-mudahan angka itu memang sekedar pembanding, bukan data yang nyata, apalagi jika ternyata kenyataannya jauh lebih besar…


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012