Artikel

Filsafat

Hendriyadi Sang Pelukis Langit

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

�Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh�� Tidak kata indah selain ucapan salam sebagai ungkapan selamat datang di dunia lukisan jemari saya. Tidak kenal maka tak sayang, maka dari itu marilah kita saling berkenalan. Hendriyadi, itulah namaku yang merupakan pemberian orang tua saya tercinta. Namun, di dalam dunia sehari-hari orang-orang lebih banyak memanggilku �Hendri�. Aku adalah anak desa terpencil di belahan pulau Sulawesi yang paling selatan. Lahir dari kehidupan desa lalu nge-bolang di kota metropolitan untuk nyanti dan mencari sejuta pengalaman, dan menyu...

Omjay, Aku Shalat Jum’at di Gereja (Keunikan Kanada)


HL | 21 November 2009 | 11:49 Dibaca: 1997   Komentar: 53   8 dari 9 Kompasianer menilai Inspiratif

Antigonish, NS. November 21, 2009

Perbedaan itu Indah...

Perbedaan itu Indah…

Sambil menunggu teman-teman yang lagi pada makan siang. Aku baru saja pulang shalat Jumat di salah satu gereja. Lho, kok di gereja? Iyya memang begitulah adanya, salah satu pengalaman toleransi antar umat beragama di Negeri Mapel, Kanada. Aku dan kawan-kawan Antigonish Moslem Community melaksanakan shalat Jumat di sana, sebuah gereja yang disediakan oleh umat Kristiani khusus untuk masyarakat muslim yang tepat terletak di salah satu gedung kampus St. FX University. Di kota ini tidak ada masjid dan masyarakat yang beragama Muslim hanya sekitar 30 orang yang tidak lain sebagian besar adalah pendatang yang menimba ilmu di sini. Bagi kami di sini perbedaan keyakinan bukanlah hal yang perlu dipermasalahlkan.

Di sini kita akan mudah menemukan kitab suci Al Qur’an di setiap gereja, itulah sebuah keunikan dan keindahan sebuah perbedaan. Menurut salah satu jamaah gereja di Wellspring telah digunakan bertahun-tahun bagi Mahasiswa yang berasal dari Asia dan Timur Tengah. Bahkan pada tanggal 27 November 2009 nanti akan digunakan bersama untuk melakukan shlat Idul Adha. Indahny sebuah perbedaan, semua itu harus kita syukuri sebagai nikmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sambil menunggu teman-teman balik aku membuka lagi buku Start Young, sebuah buku yang telah kutamatkan, namun aku senang membaca dan membacanya lagi. Karena setiap membaca buku ini timbul motivasi besar untuk menciptakan ide baru dan melakukan sebuah aksi nyata untuk meraih cita-cita hidup. Buku ini banyak memberikan inspirasi, bagaimana menjadi manusia kreatif dengan segala potensi yang ada dalam diri kita. Buku ini seakan memberikan peta hidup yang baik.

Saya akan berbagi cerita sedikit tentang salah satu kisah yang sangat menarik untuk kita renungkan bersama. Kisah ini banyak mengajarkan kepada diri saya pribadi untuk memanfaatkan kekurangan dalam diri saya untuk menjadi kelebihan di mata orang lain. Begini kisahnya saudara-saudaraku, silahkan baca dengan perlahan sambil menghayati maknanya.

Daeng Battala’ dan 1.000 Ukiran Kayu

Alkisah pada suatu hari di sebuah desa kecil,hiduplah seorang anak laki-laki. Namanya Daeng Battala’, dia memiliki kekurangan dibandingkan dengan anak-anak lain sebayanya. Ia tidak memiliki standar kecerdasan dasar yang cukup. Ia memiliki kekurangan dalam mnyerap dan memahami sesuatu hal. Kekurangannya ini membuatnya mengalami kesulitan dalam belajar dan dalam hal keilmuan.

Suatu hari, ketika Daeng sedang duduk beristirahat di bawah sebuah pohon, dengan iseng, tangannya memungut sebongkah kayu yang tergeletak di atas tanah, tepat disebelah akar pohon dekat tempatnya duduk. Diperhatikannya bongkahan kayu itu, betapa menariknya tekstur dan bentuk ruas-ruas kayu itu. Dan tiba-tiba terbesit suatu bentuk yang menarik dipikirannya,dan tangannya pun bergerak untuk mengambil pisau.

Diukirnya kayu tersebut pelan – pelan mencoba untuk membentuk seseatu yang menarik, dan mewujudkan bentuk yang ada di pikirannya.Ia gagal,kayu tersebut hanya membentuk suatu onggokan aneh yang tidak jelas bentuknya.

Penasaran ia kembali menacari kayu dan mengulangi apa yang ia lakukan sebelumnya,mencoba membentuk seseatu yang menarik dari bongkahan kayu itu.Dan sekali lagi,ia gagal.Kembali ia mencari kayu lain,dan mencoba mengukirnya.Namun lagi – lagi ia gagal.

Seorang anak lain melihatnya dan menertawakannya,Si bodoh,Si bodoh,katanya.” Si bodoh membuat sampah “.Cemoohan anak tadi tidak di gubris olehnya.Perhatiannya sudah tertuju penuh pada rasa penasarannya dan keinginannya membuat seseatu dari kayu.Ketika malam tiba,ia membawa beberapa bongkahan kayu di dalam bajunya.Dan dirumahnya ia mulai mengukir,mengukir,dan terus mengukir.

Dalam beberapa minggu kemudian,ia mulai dapat membentuk seseatu yang sederhana.Sejauh ini ia sudah menghasilkan beberapa ukiran berbentuk cicak yang masih sangat kasar bentuknya,sebuah pion catur yang gempal,dan beberapa bentuk yang tampaknya yang menyerupai apel.

Ayahnya memarahinya,dan mengatakan betapa ia telah membuang – buang waktu.Bagaimana sebaiknya ia menggunakan waktunya untuk belajar,dan bekerja di sawah.Teman – teman sekolahnya menertawakannya,dan mengatakan bagaimana ia melakukan hal yang sia – sia,dengan membuat ukiran – ukiran yang tidak jelas.Hanya gurunya yang tertegun melihat kegigihannya.Gurunya menyadari b ahwa minat dan kegigihan ini mungkin dapat berujung pada seseatu yang lebih besar.” Bila kemampuan otaknya tidak cukup untuk memahami pelajarn sekolah,maka ia membutuhkan keterampilan tambahan.”

Gurunya memberikan sebuah buku dengan bentuk – bentuk objek yang sangat bagus padanya,yang berisi lebih banyak gambar panduan dibandingkan tulisan,karena ia masih belum bisa membaca dengan baik.

Dengan gambar – gambar dari buku ini , Si anak terus berlatih keterampilan dan kemampuannya dalam mengukir.Ia mulai mencontoh gambar – gambar dalam buku ini sebagai objek ukirannya,dan mulai berkembang menjadi lebih baik.Namun walaupun keterampilannya sudah berkembang,masyarakat desa sekitarnya masih memandang rendah dirinya dan menertawakannya. “ Yah,ukirannya lumayan tapi paling segitu saja.Mau diapakan ukiran – ukiran yang berserakan di mana – mana itu “.”Benar – benar Si bodoh yang tidak tau apa - apa.Apa gunanya tiap hari hanay mengukir saja?belajar kek,biar pintaran sedikit “.

Saat tumbuh remaja , ia mmemutuskan untuk melihat isi museum seni.Dilihatnya karya – karya maestro seni dunia , dan sepulangnya , ditirunya teknik yang dilihatnya tadi .Ia mulai menghasilkan karya – karya yang cukup baik , sepuluh karya , lima puluh karya , seratus karya .

Masyarakat desa yang awalnya ragu akan kemampuan ‘si bodoh’ tadi mulai menganjurkannya untuk menjual karya-karyanya, siapa tahu ada yang mau membeli. Tapi si anak yang kini sudah remaja tidak mengerti cara menjualnya. Jadi ia hanya terus mengukir, mengukir, dan mengukir. Dan tanpa ia sadari ia terus menajamkan kemampuannya.

Kembali di masyarakat desa memanggilnya si bodoh, karena karya-karyanya dibiarkan menumpuk dan berserakan tanpa dijual.

100 menjadi 500 karya, kemudian menjadi 1000. Remaja itu sudah menjadi pemuda, dan karyanya sudah berserakan di mana-mana. Di seluruh halaman rumahnya, hingga ke jalan-jalan dekat rumahnya.

Suatu hari datanglah pengusaha dari kota, sebut saja Abah Pray. Dan ketika melewati rumah si Pemuda, alangkah terkejutnya diaa melihat karya-karya ukiran dan patung kayu dengan kualitas yang sangat mengagumkan berserakan ibarat sampah. Segera ia memerintahkan sopirnya untuk berhenti, dan berjalan perlahan menuju rumah yang tampaknya merupakan sumber patung dan ukirran-ukiran itu.

Di dalam, ia melihat seorang pemuda yang sedang mengukir sebuah patung besar yang sangat mengagumkan. Terbelalaklah mata Abah Pray. Betapa ia tidak menyangka akan menemukan seseorang dengan keterampilan seperti ini di desa terpencil.

Akhirnya ia merengkuh si pemuda di bawah sayapnya, membawanya ke kota dengan 1.000 karyanya, dan membantu memasarkan karya-karya Daeng Battala’ dengan harga yang sangat tinggi, dan melejitkan nama dan karya Daeng Battala’ ke seluruh negeri.

Kini, ‘si anak bodoh’ tadi menjadi seniman ternama dan terkaya di negeri ini, berkat keseriusannya dalam mengembangkan keterampilannya mengukir.

Warga desa yang dulu menghinanya kini menyebutnya seniman jenius, sedangkan teman-teman sekolahnya yang iri padanya masih berusaha meledeknya dengan mengatakan bahwa ia tidak lulus SD, dan belum dapat membaca dengan lancer.

Tapi, apakah ini masalah? Aapakah itu bahkan di pertanyakan oleh si pengusaha itu? Tidak sama sekali. Keterampilannya menutupi semua kekurangannya.

Hard skill atau keterampilan yang kita miliki seringkali dapat menyelamatkan saat kita berada di percabangan jalan. Kemampuan dan kompetensi kita dalam menghasilkan dan mengolah sesuatu akan menjadi nilai tambah yang sangat luar biasa dalam mencarai pekerjaan, memulai dan menjalankan bisnis, dan bahkan dalam membina hubungan dengan komunitas dan jaringan teman di bidang keterampilan yang sama.

Membaca kisah ini sangat memberikan motivasi bagi diri saya pribadi, ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dan menjadi renungan dalam diri kita. Lalu aku bertanya dalam hatiku “Hard Skill apakah yang telah aku punya???” Bagaimana dengan Anda?

Salam sukses

Sang Pelukis Langit

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: