Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Djanuar

Masih sendiri mengarungi perjalanan hidup yang tak tahu akan berakhir kapan. Masih mengenyam pendidikan dan selengkapnya

Allah Bapa, Allah Ibu

OPINI | 18 November 2009 | 02:41 Dibaca: 1176   Komentar: 48   0

Prolog

Kejadian ini berawal ketika salah seorang mahasiswa semester IV pada salah satu universitas swasta di Jakarta menutup perkuliahan dengan sebuah doa, ia mengawali doanya dengan rangkaian kata seperti ini “Ya Allah Bapa, Allah Ibu kami menghaturkan syukur kepada-Mu….”, spontan mendengar kalimat seperti itu beberapa mahasiswa di ruangan tersebut tertawa sesengukan, padahal pemimpin doa membawakan doanya dengan penuh keseriusan. Keadaan seperti itu (tertawa) menimbulkan reaksi dari seorang biarawati yang (mungkin) terganggu mendengar redaksi kalimat dalam doa tadi yang agak nyeleneh, tak biasa, dan berbeda dengan isi pelajaran agama yang sering diterapkan dalam pelajaran di bina iman, sekolah, dan perkuliahan yang mana kerap menyebut Allah dengan sapaan Bapa, Allah Bapa. “Doa yang betul!!”, seru biarawan tersebut. Maksud dari teguran itu menurut persepsi saya bila berdoa jangan seperti itu.

Berangkat dari pengalaman tersebut mengundang dua pertanyaan di dalam benak saya, pertama, apakah Allah itu seorang laki-laki atau seorang perempuan? Sehingga kita menyandangkan gelar Bapa atau dan Ibu bagi diri-Nya. Dan kedua, apa yang melatarbelakangi peng-label-an Allah sebagai Bapa sehingga umat Kristiani kerap memanggil Allah dengan panggilan Bapa namun sangat jarang memanggil Allah sebagai Ibu?

Sebuah Persimpangan

Penceritaan kisah di atas bila tidak berlebihan dan prematur membawa saya pada sebuah kesimpulan bahwa selama ini gelar atau panggilan Allah sebagai Bapa begitu mendominasi ketimbang Allah sebagai Ibu. Kita coba mengamati dan mendengar dalam setiap doa baik di lingkungan, wilayah, kampus, dan setiap ada kesempatan doa, pencitraan Allah sebagai Bapa dianggap biasa, lumrah, wajar, dan diterima dengan baik. Namun ketika sebutan Ibu disandangkan pada diri Allah menimbulkan reaksi tidak biasa seperti menyebut Allah sebagai Bapa.

Mungkin, banyak yang lebih sreg dan kerap mencitrakan Allah sebagai Bapa ketimbang sebagai Ibu diantaranya karena faktor kebiasaan. Sejak kecil hingga kini diajarkan dan mendengarkan dalam setiap kesempatan doa orang tua, guru, dan rekan-rekan selalu menyebut Allah sebagai Bapa tidak sebagai Ibu, akibatnya kebiasaan itu terpola bahwa Allah itu Bapa. Akibatnya ketika ada umat yang memanggil Allah dengan sebutan di luar pola yang telah terbentuk agak terganggu, risih, dan tidak sreg. Memang menyebut Allah sebagai Bapa tidak keliru (juga Allah sebagai Ibu) tetapi saya merasa takut bahwa kita terjebak dalam frame pen-jenis kelamin-an Allah, Allah itu berjenis kelamin laki-laki sehingga Dia disebut Bapa, atau Allah itu berjenis kelamin perempuan karena itu Dia dipanggil Ibu. Anda dan saya pun pasti tidak tahu apa jenis kelamin Allah, benar bukan? Penjenis kelaminan hanya kita jumpai pada ciptaan seperti manusia, hewan, dan binatang. Bila kita meng-kandang-kan Tuhan dalam “kandang” jenis kelamin pria atau perempuan maka Tuhan tidak lebih sebagai ciptaan, sama seperti kita, dengan demikian hal tersebut meruntuhkan iman kita bahwa Allah adalah makhluk tercipta bukan sang pencipta.

Allah dalam Simbol

Gelar Allah dan Ibu yang kita lekatkan pada Allah sebenarnya merupakan sebuah simbol. Manusia secara psikologis ingin mengetahui segala sesuatu dengan pikirannya, namun akhirnya manusia sampai kepada suatu horison tak terbatas bahwa realitas Allah hanya mungkin ditangkap dalam simbol dan tanda-tanda yang diterima sebatas diakui oleh semua orang yang ingin memenuhi kebutuhan untuk berkomunikasi dengan Allah yang sesungguhnya (Jhon Freeman (ed.), Man and His Symbols seperti dikutip oleh Th. S. Sarjumunarsa dalam Psikologi Agama, hlm. 35).

Hubungan antarpribadi yang paling mendasar ialah hubungan seorang manusia dengan bapa dan ibu kandung. Karena dari orang tua kita menerima hidup dan saat kita kecil kita menerima pula makanan, perlindungan dan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup, terutama cinta yang sangat dibutuhkan demi perkembangan yang sehat. Janganlah heran bahwa bapa dan ibu merupakan lambang yang paling banyak dipakai untuk berbicara yang ilahi di dalam agama-agama (bdk. Georg Kirchberger, Menggugat Allah, hlm. 10). Jadi bila menyebut Allah sebagai Bapa atau Allah sebagai Ibu bukan karena atas dasar jenis kelamin tetapi merupakan sebuah simbol yang menjembatani hubungan dan komunikasi antara manusia dengan Allah yang adalah transenden sekaligus imanen. Dengan demikian tidak ada yang salah bila menyebut Allah sebagai Bapa dan Allah sebagai Ibu. Allah Bapa, Allah Ibu berkatilah kami anak-anak-Mu. Amin

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Apakah yang Lebih Baik daripada …

Ade Hermawan | | 23 December 2014 | 06:03

Yuks Jadi Tongsis Reporter… …

Imam Suwandi | | 23 December 2014 | 00:56

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 9 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 11 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 13 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 14 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: