
Bosan jadi pegawai, lantas berwirausaha. Senang baca, dan suka juga nulis, tapi kadang2. ~ "Pengetahuan tidaklah cukup, ..... karenanya kita hrs mengamalkannya. Niat saja tidaklah cukup, untuk itu kita harus melakukannya."
Dibaca: 757
Komentar: 13
1 dari 1 Kompasianer menilai Inspiratif
Dalam sejumlah peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, sikap pembenaran atas suatu perbuatan atau tindakan, seringkali digunakan untuk mendapatkan simpati publik untuk menutupi adanya kelemahan, dan atau atas kesalahan yang timbul karena melesetnya suatu strategi atau suatu konsep awal perencanaan. Cara-cara itu semula, dimaksudkan untuk mengendalikan keadaan. Namun kondisi itu, bisa saja berubah menjadi tidak lagi terkendali, bahkan telah turut berperan menghadirkan tekanan-tekanan besar dari masyarakat (reaksi emosional). Padahal, “yang namanya ‘pembenaran’ seyogyanya merupakan sebuah sikap yang bertentangan dengan prinsip ‘kebenaran’.”
Disadari atau tidak oleh si pembuat pembenaran, … bahwa ia telah menyuntikan virus gradasi nilai-nilai kebenaran dengan sejumlah pernyataan untuk mendukung argumentasi-argumentasi untuk maksud pembenaran. Bahkan, si pelaku sendiri sebenarnya telah menciptakan kondisi yang tidak nyaman bagi dirinya sendiri, karena telah mengeluarkan statement untuk maksud pembenaran tersebut. Bekerjanya virus tersebut mengantarkan, … suatu kualitas pemikiran tertentu yang terbangun agar sebuah pengakuan rasa bersalah, tidak harus diucapkan atau dinyatakan. Pada saat itu terjadi, ia telah ‘membiaskan permasalahan’.
Media massa pun belakangan ikut digunakan (lihat: pengakuan Ary Muladi, seputar aliran dana Anggodo, yang menyebutkan dana sebesar 250 juta rupiah untuk media) untuk mempengaruhi masyarakat dalam berpikir dan beranggapan (pembentukkan opini publik). Ambil contoh, informasi yang kita dapat setiap hari melalui televisi, koran, internet, majalah-majalah dan sebagainya, masuk ke dalam otak kita. Bentuk maupun cara-cara penyampaiannya yang terus-menerus diulang-ulang dengan mencuplik bagian-bagian yang sesuai dengan misi mereka, dan dikemas dalam kata-kata dan gambar yang begitu menarik, sehingga bisa membawa pikiran sebagian besar masyarakat dengan mudah terhanyut dan tersesatkan, dan seringkali tanpa kita mempertimbangkan keseriusan dan kebenarannya. Akibatnya, rusaklah cara berpikir (kritis) kita.
Terlepas dari benar atau tidaknya si Ary Muladi telah benar-benar menggelotorkan dana untuk media. Namun satu hal yang patut kita simak adalah, .. terpikirnya strategi penggunaan media untuk pembelokan opini publik, guna “Pembenaran Yang Aya-aya Wae.”
Mengapa demikian? … Ada sebagian orang yang cenderung lebih memilih untuk menikmati keadaan yang dirasa ‘tidak nyaman’ itu oleh sebagian masyarakat yang jeli dan kritis. Lantaran, si pembuat pembenaran enggan untuk mengakui adanya sebuah kesalahan. Boleh jadi, kondisi ini terjadi karena ia ingin melindungi suatu kepentingan yang lebih besar atau karena ‘ego’ semata. Konsep berpikir demikian, sebenarnya bisa dijadikan kajian, bahwa … “sebaik apapun karakter, kedudukan maupun kepribadian seseorang, masih sangat dimungkinkan ia sanggup untuk bertindak tanpa perasaan.”
Situasi itu seharusnya bisa dihindari, apabila salah satu ataupun masing-masing pihak menyadari, bahwa … “perselisihan yang ada, tidak akan membuat masalah menjadi selesai dan konflik tidak berkembang menjadi saling menyakiti satu dengan yang lainnya.”
“Tidak ada perselisihan yang berakhir dengan kedamaian,” apalagi kalau setiap pihak tetap berupaya untuk membangkitkan amarah maupun rasa kesal orang lain, karena besarnya keinginan untuk mempertahankan pendapat, hal-hal prinsip, atau ego dari masing-masing pihak.
“Kebenaran yang bukan Pembenaran,” adalah sesuatu hal yang harus tetap dinyatakan dan selayaknya terus dijadikan sebagai sebuah konsep berpikir benar, dalam situasi maupun keadaan apapun. Bahwa apapun alasan-alasan yang dikemukan untuk maksud pembenaran, tidak akan mendorong suatu keadaan menjadi lebih baik, namun tetap berada pada posisi saling bertentangan.
Dalam tulisan sebelumnya, penulis telah menyinggung tema ini. “Kesesatan Berpikir.” Ada dua pelaku fallacy, yaitu pelaku yang sengaja ber-fallacy (sofisme), dan pelaku yang tidak sadar ia ber-fallacy (paralogisme) . Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggung-jawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya. Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi amoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu. Begitu banyak manusia yang terjebak dalam lumpur fallacy, sehingga diperlukan sebuah aturan baku yang dapat memandunya agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang berakibat buruk terhadap pandangan dunianya. Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bias mempengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar.
, Ada yang berkomentar, .. “emosional itu sifatnya lebih jujur, lebih spontan, dan lebih manusiawi, sedangkan nalar terlalu banyak faktor external yang dipertimbangkan sehingga manusia tidak menjadi dirnyai sendiri, menjadi hiprokrit, pretender dan sering dianggap manusia yang civilezed. Terserah kita apakah ingin jujur dan menjadi diri sendiri atau ingin menjadi yang ‘berbudaya’ namun membohongi diri sendiri.” Dan ada juga yang komen, .. “kalau emosi kan situasi dan kondisi yg menciptakan, kalau nalar biasanya ga memikirkan sikon saat itu. betul ga Pak ?”
Banyak ahli-ahli perilaku mengatakan, … “Berpikir seyogyanya adalah upaya untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, logis, dan analisis, sering disebut dengan ‘penalaran’. Namun, kadang manusia sering mengambil suatu kesimpulan merujuk pada perasaannya yang tidak berdasarkan penalaran. Para ahli sosiobiologi menempatkan keunggulan perasaan dibandingkan nalar pada saat-saat kritis, dimana ‘perasaan atau emosi’ menuntut kita dalam menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tgas yang terlampau riskan bila hanya diserahkan pada otak atau nalar saja.”
Ambil contoh, tindakan heroik yang dikutip oleh Daniel Goleman, Ph.D dari Associated Press, 15 Sep’ 93 dalam bukunya Emosional Intelligence. Mengisahkan : saat-saat terakhir Gary dan Mary Jane Chauncey, pasangan yang amat menyayangi Andrea, putri mereka yang berumur sebelas tahun.
Alkisah, keluarga Chauncey adalah penumpang kereta Amtrak yg tercebur kesungai setelah sebuah tongkang menghantam dan mengguncangkan jembatan rel kereta api di sungai kecil di kawasan pedesaan Lousiana. Karena lebih memikirkan keselamatan putri mereka, pasangan tersebut berusaha keras menolong Andrea sewaktu air menghambur masuk ke dalam kereta yang tengah tenggelam. Mereka berhasil menolong Andrea keluar melalui sebuah jendela yang agak terbuka sedikit ke regu penyelamat. Kemudian sewaktu gerbong itu tenggelam ke bawah air, mereka lenyap (tenggelam). Pembenaran akalkah tindakan ini? … Nurani, … instink, … naluri, … emosi?
‘Kebenaran’ bersumber dari Allah Ta’ala, sedangkan ‘Pembenaran’ bersumber dari hati yg sakit;
Allah SWT berfirman tentang ‘kebenaran’:
“kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. al-Baqarah: 147)
Sedangkan tentang ‘pembenaran’ Allah SWT berfirman:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. al-Baqarah: 10)
“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. mereka menjawab: Sesungguhnya Kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. (QS. al-Baqarah:11)
Mengutip pemikir muslim Imama al-Ghazali, beliau mengatakan,
Pembenaran lahir dari asumsi yang berdasarkan kapasitas ilmu dan pengetahuan yang dimliki, dan dari sifat individu itu sendiri. Sedang kebenaran sejati ‘hanya’ berasal dari “Allah, Tuhan Pemilik Kebenaran.” Gunakan nurani untuk berkata benar, karena sesungguhnya, hati nurani tidak pernah bergairah untuk berpikir maupun membenarkan adanya tindakan untuk melakukan sesuatu hal yang salah.
Kiranya Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, menolong kita untuk menjalani hari-hari dalam hidup ini, untuk bertindak benar serta tidak menimbulkan perselisihan dengan orang lain, apapun bentuknya.
Semoga tulisan ringan pengantar minum kopi dikala hujan sore ini, bisa bermanfaat. Dan bila ada yang salah dan kurang berkenan, mohon dibukakan pintu ma’af yang seluas-luasnya.
Salam,
Umar - Tukang Nasi