Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Filsafat

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Arifin Basyir

jujur aja n terus terang sebenarnya aq ini gaptek asli. awalnya ngenal komputer itu sebagai salah satu mainan anak (komidi puter). demikian juga tentang internet, dulunya ngenal itu sebagai makanan (instan mi, telur dan kornet). awal belajar ngenet didaftarin teman jadi anggota jamaah feisbukiyah (belakangan baru tahu kalau istilah yang bener feisbuker). ketika jadi feisbuker tiap buka akun koq ada tulisan apa yang kau pikirkan dan tuliskan sesuatu di dinding. iseng-iseng belajar nulis disitu. nulis lagi di dinding feisbuker artis tentang surat cinta dan puisi cinta. belajar terus baca koran ...

Renungan Penyesalan Mengenang Kepergian Puri

REP | 05 November 2009 | 12:29 378 0 1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik

Renungan Penyesalan Mengenang Kepergian Puri

Selama ini aku tidak mengenal sama sekali, siapa itu Puri. Aku tidak banyak mengenal kompasianer satu persatu. Lebih dari itu aku tidak sempat membaca semua postingan kompasianer. Aku mengenal Puri setelah banyak diberitakan dalam postingan tulisan berbagai rekan kompasianer akhir-akhir ini. Kalau orang lain merasa terlambat mengetahui kepergian Puri, aku teramat sangat lebih dari terlambat*. Apalagi untuk berbuat sesuatu sehubungan dengan penderitaan Puri selama ini.

Puri diberitakan meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya. Salah satu dari sederetan suatu penyakit yang menempati papan atas dalam merenggut nyawa penderitanya. Puri adalah salah seorang dari suatu generasi muda harapan, anak bangsa yang potensial produktif pergi sebelum wakunya. Meninggal dunia akibat digerogoti penyakit kanker ganas yang menyerang bagian organ tubuhnya yang selama ini juga belum difungsikan sebagaimana mestinya, organ asesoris penunjang fungsi reproduksi. Penyakit kanker bukan tergolong penyakit menular dan bukan pula penyakit yang diturunkan dari kedua orang tuanya. Dari mana Puri mengidap terpapar menderita penyakit ini ?

Teori begitu mudah mengatakan bahwa salah satu penyebab kanker adalah zat atau bahan yang bersifat karsinogenik. Namun sangat sulit merinci lebih spesifik apa dan bagaimana zat pemicu kanker itu. Berbagai macam bahan kimia, limbah pabrik dan polutan lingkungan hidup di darat, udara maupun perairan laut dan sungai dapat dikatagorikan kedalamnya, bahkan berbagai jenis mikrooraganisme dapat dituding sebagai pencetus timbulnya suatu kanker. Karakter kanker baru diketahui setelah menyerang dengan keganasannya, merupakan suatu kehidupan sel tersendiri, berkembang biak tak terkendali menyebar kemana-mana, mengalahkan sel induk semang atau inang yang ditempati. Tapi tidak termasuk dalam katagori klasifikasi parasit atau jamur misalnya, dalam kancah kehidupan mikroorganisme mikrobiologi

Begitu rancunya pengertian zat karsinogenik berakibat belum ditemukannya metode pengobatan yang spesifik ‘drug of choice’. Konon chemoterapeutika maupun penyinaran sifatnya hanya menghambat pertumbuhan keganasan sel kanker, belum mampu membunuh secara drastis tuntas sempurna seratus persen. Kalaupun terjadi penyembuhan mungkin hanya terkendali dan sudah menimbulkan akibat kerusakan yang permanen, masih bersifat residif atau bahaya laten yang memungkinkan kambuh lagi di lain kondisi. Metode pencegahan, baru vaksin anti kanker leher rahim (servik uteri) yang kini terdengar. Padahal kanker dapat menyerang semua organ tubuh, tanpa kecuali atau tidak satupun organ yang ‘kebal hukum’ terhadap kanker.

Boleh jadi sel kanker adalah salah satu kehidupan makhluk tersendiri yang statusnya belum diakui atau disamakan atau belum terdaftar atau baru terdengar dibanding dengan klasifikasi mahkluk lain, mikroorganisme misalnya. Bahkan juga ada ‘makhluk asing’ yang jelas kelihatan keberadaannya, terkesan jinak disebut tumor, namun dapat berpotensi ganas menjadi kanker bila diganggu kehadirannya. Yaitu tahi lalat, tembong atau tompel atau tanda lahir barangkali, yang habitatnya di permukaan kulit, kulit sebagai salah satu organ tubuh dalam sistem fungsi pertahanan.

Barangkali seperti itulah gambaran fisik sel kanker di dalam organ-organ tubuh yang tidak kelihatan yang awalnya jinak sebagaimana di permukaan bagian kulit tersebut. Yang kemudian terpicu bereaksi oleh mekanisme lain yang selama ini disebut-sebut sebagai zat bersifat karsinogenik atau gesekan mekanis dengan benda lain di dalam tubuh, ibarat mengusik-usik tahi lalat yang ada di kulit.

Terlepas benar atau salah dalam menggambarkan kanker, kenyataan menunjukkan bahwa kanker masih merupakan salah satu masalah dalam kesehatan masyarakat. Kanker adalah nama yang bersifat umum, baru mempunyai nama setelah menyerang, sesuai atau seperti nama organ yang diserangnya. Dari satu tempat menyebar ke lain tempat di dalam seluruh organ tubuh, namanya berubah-ubah namun sifat keganasannya tetap bahkan berkembang lebih parah.

Puri hanyalah salah satu atau sebagian kecil korban keganasan makhluk yang bernama kanker. Salah satu makhluk dalam habitat kehidupan makhluk lainnya, termasuk dalam lingkungan makhluk spesies manusia. Sebagai makhluk, kanker mempunyai ‘hak dan kewajiban’ yang sama dengan makhluk lain, hak untuk hidup dan kewajiban bersaing memperebutkan habitatnya, menyerang musuh-musuhnya agar tetap eksis di alam tempat bersama kehidupan semua makhluk.

Selama ini manusia menamakan diri atau mengklaim sebagai makhluk yang paling sempurna di planet bumi dan bahkan di seantero belahan dunia manapun. Tetapi mampukah mengalahkan makhluk lainnya sehingga menjadi single fighter. Mampukah mengenyahkan makhluk lain organisme penganggu, musuh-musuhnya yang selama ini mengganggu keamanan dan kenyamanan kehidupan. Mampukah melawan kodrat alami, kekuatan alam, bencana alam dan makhluk lain pengganggu yang juga menghuni alam semesta ini.

Kanker hanya salah satu atau sebagian kecil makhluk hidup yang mengganggu yang belum mampu dituntaskan. Sementara masih banyak gangguan makhluk hidup lainnya belum teratasi. Mahluk halus yang tidak kasat mata biasa, bernama virus, bakteri, parasit, jamur, riketsia dan sederetan klasifikasi nomenklatur nama lainnya. Dahulu komunitas bakteri pernah berjaya bersimaharalela menunjukkan kebolehannya menganggu manusia dengan berbagai episode penyakit bakterial yang masih ada sampai saat ini. Manusia boleh berbangga mampu mengalahkannya ketika salah seorang manusia menemukan obat penangkal bernama antibiotika. Dari yang bernama penisilin berikut keturunannya dan jenis lainnya berkembang terus sampai kini. Antibiotika, antimikroba, kemoterapeutika atau apapun namanya generasi terbaru yang diakui paling mujarab khasiatnya.

Di lain fihak makhluk hidup penganggu juga tidak mau kalah dengan kehebatan dan kebolehan manusia. Makhluk halus dari komunitas virus kini berunjuk rasa menuntut hak dan kewajibannya, menunjukkan keganasannya. Penyakit yang disebabkan virus kini seolah merajai kasus-kasus global yang mengarah ke pandemi dunia, sebut saja misalnya yang pernah muncul yaitu SARS dan HIV-AIDS. Lebih dari itu suatu penyakit viral yang dulu dikenal spesifik sprsies, akhir-akhir ini melintas batas komunitas spesies menjadi penyakit viral yang menyerang antar lintas spesies (zoonosis), flu burung, flu babi dan entah penyakit hewan apalagi yang akan menyusul.

Kebanggaan manusia dalam mengandalkan antibiotika untuk melawan penyakit bakterial, tidak banyak berarti untuk melawan penyaklit viral. Virus tidak terbunuh dengan antibiotika sebagaimana rekannya dari kalangan bakteri. Kalaupun kini ada obat untuk menangkal virus, sifatnya hanya menghambat perkembang biakannya, disebut anti retroviral yang akhir-akhir ini populer disebut-sebut dalam menangani penyakit viral.

Puri, maafkan kami semua yang kau tinggalkan telah gagal mengatasi kemelut penderitaan yang engkau alami selama ini dan bahkan lebih dari itu telah gagal menyelamatkan jiwamu dari rongrongan musuh bebuyutan bernama kanker. Kami manusia biasa yang walaupun mungkin ada yang diberi kemampuan agak berlebih, sebagai ahli dalam ilmu pengobatan yang ditunjang dengan berbagai peralatan super canggih sekalipun, namun kemampuan itu juga dalam keterbatasan. Kenyataan menunjukkan bahwa semua upaya dan kemampuan yang kami miliki gagal total. Tidak mampu melawan kekuatan alam yang tidak terbatas dengan segala aspek kehidupan makhluk yang terkandung didalamnya. Semoga pengalaman ini menjadi pelajaran dan pengalaman bagi kami manusia yang telah engkau tinggalkan untuk selama-lamanya. Jangan ada lagi rekan Puri Puri lainnya yang menyusulmu dengan kasus yang sama.

Puri, seandainya memungkinkan engkau berhak mengadukan kami yang telah kau tinggalkan ini, kepada Tuhan penguasa alam semesta ini atas segala kelalaian dalam kapasitas sebagai makhluk yang sudah terlanjur mengaku yang paling sempurna daiantara makhluk lainnya di planet bumi ini dan bahkan diseantero bagian belahan dunia manapun.

Selamat jalan Puri, maafkan kami Puri, Dukamu adalah dukaku, duka kami, duka kita semua…………………………………………

Inna lillahi wa inna illaihi rojiun

*Terlambat : Lebih dari itu dalam lebih dari seminggu terakhir ini terdapat gangguan instalasi hotspot yang kemungkinan tersambar petir, sehingga tidak dapat online. Semakin menambah keterlambatan memperoleh informasi.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012