Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Mita

Minat yang terlalu sering berubah-ubah

Apa itu Agama?

REP | 25 June 2009 | 05:40 Dibaca: 13880   Komentar: 38   1

Apakah agama itu? Definisi ‘agama’menurut wikipedia bahasa Indonesia bisa di klik disini yaitu sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Bisa dilihat bahwa definisinya sangat lebar dan tidak spesifik. Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa latin religio

Religio pada masa Romawi sekitar abad ke satu SM mulanya digunakan untuk menggambarkan benda-benda atau tempat yang mempunyai ‘ruh’, atau praktek tertentu dengan sanksi berat karena kuasa di luar manusia, atau tabu. Lalu kata religio juga digunakan oleh Jerome ketika menerjemahkan Injil ke bahasa latin untuk menerjemahkan threskeia dalam bahasa Yunani yang terdapat di Perjanjian Baru yang maknanya ketaatan religius, praktik ritual, cara pemujaan.

Ketika Calvin menulis tentang Christiana religio pada abad ke 17, mulailah istilah religi digunakan sebagai suatu tatanan dan konsep mengenai religi yang paling benar dari bermacam religi-religi.

Dalam masa modern abad ke 19 Marsilio Ficino menerjemahkan karya Plato ke dalam bahasa latin De Christiana Religione (Agama Kristen). Sejak itu ungkapan ini menjadi lazim hingga sekarang tetapi dengan perubahan makna yang hebat dan mendalam.

Pemahaman itu lalu berkembang untuk melabeli konsep-konsep keimanan di masyarakat lain dengan penambahan –ism, misalnya Hiduism untuk tradisi di India, Taoism, Confucianism dan Buddhism di Cina. Masyarakat yang diberi label itu sendiri tidak mengatakan apa yang dikerjakannya sebagai ‘agama’ karena padanan kata dalam bahasa asli nya tidak ada. Orang Jawa tidak merasa beragama Jawa, tetapi keyakinan itu bersatu dengan adat istiadat sehari-hari dan tidak bisa dipisahkan menjadi suatu entitas tersendiri bernama ‘agama’. Sama halnya dengan bangsa Mesir kuno, Inca, atau Banten.

Bahasa Ibrani klasik tidak mempunyai kata yang berarti ‘religi’. Perjanjian lama bersih dari konsep dan istilah ini. Dalam Perjanjian Baru kata yang sering muncul adalah pistis, iman.

Dalam islam ada kata yang hampir sepadan dengan kata religi yaitu ‘diin’. Bentuk jamak diin adalah adyan, tetapi kata ini tidak ada dalam Al Quran. Dalam Al Quran kata Allah muncul 2697 kali sedang kata Islam muncul 8 kali. Islam adalah kata benda verbal dari akar kata aslama yang artinya menyerah, memasrahkan diri, memberikan diri. Kafara merupakan asal dari kata kafir yang berarti menolak atau menampik.

Dari rangkaian pengetahuan diatas yang saya baca dari buku Wilfred C Smith - The Meaning and End of Religion membuat saya mempertanyakan kembali pertanyaan diatas. Apakah ‘agama’ itu? Apakah dia ada? Kalau istilah agama dengan makna yang sekarang kita fahami diciptakan pada abad ke 19 oleh Ficino, masih pentingkah istilah itu?

Kita sudah biasa melabeli sifat rekan kita diam-diam. Kita melabeli mereka sebagai ‘sombong’, ‘saleh’, ‘lurus’, ‘pembohong’, ‘sesat’, ‘murah hati’. Label ini lebih murni dan jujur untuk menggambarkan sebagian iman dari rekan yang kita kenal. Adalah mustahil untuk mengetahui iman seseorang dengan gamblang. Muslim satu dengan yang lainnya bisa berbeda keimanannya juga tingkah lakunya . Keimanan adalah sangat personal sekaligus juga komunal. Tetapi seharusnya tidak ada garis merah perbatasan yang membedakan keimanan seseorang seperti yang sekarang dilakukan oleh ‘agama’.

Jika istilah ‘agama’ itu tidak ada, apa konsekwensinya? Jika seseorang meyakini Allah, membaca Al Quran, meyakini Rasul Muhammad sebagai pembawa pesan Allah, dia tidak perlu berkata kepada dunia bahwa dia beragama islam, dan secara otomatis dia akan dikenal sebagai muslim.

Masih perlukah pengkotak-kotakan manusia atas nama ‘agama’ yang bahkan tidak ada dalam kitab suci yang kita baca?

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan diin mu untuk mu dan telah Aku cukupkan nikmat Ku bagimu dan telah Aku ridhai Islam sebagai diin mu” (sebagian dari AQ5:3)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: